- Dilaporkan bahwa banyak pemimpin Al-Qaeda berada di balik penerbitan, seorang ahli pembuatan bom telah menerbitkan sebuah majalah elektronik terbaru yang memberikan rincian bagimana menjadi seorang Mujahid, salah satunya ahli membuat bom.
Angsuran pertama telah beredar secara online dalam lingkaran jihadi yang tak menyenangkan musuh-musuh Allah, berjudul "AlQaeda Airlines" dan fitur gambar sebuah siluet pesawat bermesin ganda naik menuju matahari terbenam.
Majalah dengan 73 halaman itu ditulis oleh figur lama dan ahli bahan peledak, Abdullah Dhu al-Bajadin. Dalam terbitan ini, diuraikan mengenai dasar-dasar kimia dan resep untuk anestesi klorofom beracun.
"Kami memilih itu karena mujahid pemula bisa menyiapkannya di rumah dengan menggunakan bahan yang tersedia di toko kelontong dan supermarket," tulis penulis.
Al Qaeda sebelumnya pernah menerbitkan tips pembuatan bom dalam majalah elektronik lainnya,Inspire, yang berbahasa Inggris. Majalah ini telah vakum sejak Samir Khan rahimahullah, orang yang berada di balik pembuatan majalah telah syahid dalam serangan pengecut drone AS di Yaman bersama dengan Syeikh Anwar al-Awlaki rahimahullah.
Judul Airlines ini muncul sejak pekan lalu di forum Jihad terkemuka yang secara misterius menghilang bersama dengan lima lainnya pada akhir bulan lalu, namun muncul kembali pada 4 April 2012.
Seorang mantan pengamat "terorisme", Will McCants mencatat bahwa informasi teknis seperti ini sudah banyak tersedia. Tangan pelatihan "teror" lebih sulit didapat, ujarnya.
Mantan penasehat keamanan dalam negeri Gedung Putih, Frank Cillufo yang kini bekerja di Universitan George Washington, berpendapat bahwa AS harus mengganggu aktivitas forum, karena menurutnya jelas menimbulkan kekhawatiran kuat daripada retorika murni dan propaganda.
Kepala Komite Keamanan Dalam Negeri, Pete king mengatakan bahwa "harus menggarisbawahi ancaman yang meningkat dari radikalisasi terorisme dalam komunitas Muslim Amerika dan 'serigala sendirian' yang telah berulang kali menimbulkan ancaman berat untuk keamanan nasional AS".
0
komentar
- Jam'iyyatul Qurra' Wal Huffazh, salah satu badan otonom dibawah Nahdatul Ulama (NU) untuk pertama kalinya menggelar Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) bertaraf internasional.
"Insya Allah MTQ internasional yang baru pertama kali kami adakan berjalan dengan baik,"kata Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj dalam konferensi pers yang digelar di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Senin (9/4).
Said Aqil menuturkan, untuk menyambut dan menyemarakan MTQ internasional, pihaknya akan mengadakan acara Goes to MTQ Internasional yang diharapkan mampu memberikan ruang bagi segenap lapisan masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan syiar Alquran.
"Acara ini diharapkan dapat menciptakan komunitas Islami yang kreatif dikalangan remaja dan umum," imbuhnya.
"Acara ini diharapkan dapat menciptakan komunitas Islami yang kreatif dikalangan remaja dan umum," imbuhnya.
Menurut Said Aqil, pelaksnaan MTQ ini adalah salah satu cara untuk mengabadikan Al-Quran dengan pendekatan langsung dengan Al-Quran dan menyiarkan dengan sentuhan lain.
Said Aqil berharap, dengan diadakan MTQ ini dapat menciptakan Islami yang kreatif serta membuka cakrawala baru tentang konsep kegiatan religi.
"Dengan demikian, seluruh Umat Islam dapat berpartisipasi untuk mengapresiasi, mencintai dan menghayati Al-Quran," tutur Said Aqil.
Dalam ajang ini, Panitia mengundang 1.500 peserta terbaik dari negara-negara sahabat dalam lingkup ASEAN untuk berkompetisi pada tanggal 3 Juli sampai 8 Juli 2012 yang sedianya digelar di Pontianak, Kalimantan Barat.
Untuk duta Indonesia akan diwakili oleh peserta terbaik MTQ Nasional yang diselenggarakan beberapa hari sebelum pelaksanaan MTQ Internasional.
Untuk menyambut dan menyemarakkan MTQ ini, Pimpinan Pusat Jam'iyyatul Qurra Wal Huffazh NU mengadakan serangkaian kegiatan dengan tajuk 'Goes to MTQ Internasional' dengan harapan mampu memberikan ruang bagi lapisan masyarakat untuk kegiatan syiar Al-Quran ini.
Said Aqil menjelaskan, gelaran MTQ pertama kali digelar oleh NU, kemudian diadopsi oleh pemeritah pada 1962 lalu. Selanjutnya pemerintah melalui Kementerian Agama secara berkala menggelar MTQ tingkat Nasional. "Kita akan coba hidupkan MTQ internasional yang spektakuler," tuturnya.
Indonesia sendiri, lanjut Said Aqil, selalu juara MTQ tingkat internasional. Dalam pagelaran MTQ Internasional di Iran, wakil Indonesia memenangi dua gelar, begitu juga di Malaysia dan Turki. "Pak Hasyim sendiri salah satu juri internasional," ungkapnya.
Lomba ini akan dibagi menjadi dua kategori, yakni musabaqah dan nafas qurani. Nantinya para peserta dari Indonesia akan diambil pada MTQ tingkat nasional yang berlangsung pada 23-24 Juni mendatang.
Indonesia sendiri, lanjut Said Aqil, selalu juara MTQ tingkat internasional. Dalam pagelaran MTQ Internasional di Iran, wakil Indonesia memenangi dua gelar, begitu juga di Malaysia dan Turki. "Pak Hasyim sendiri salah satu juri internasional," ungkapnya.
Lomba ini akan dibagi menjadi dua kategori, yakni musabaqah dan nafas qurani. Nantinya para peserta dari Indonesia akan diambil pada MTQ tingkat nasional yang berlangsung pada 23-24 Juni mendatang.
Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semsta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada bagidan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Syirik merupakan kezaliman terberat dan dosa terbesar terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala. Berbuat syirik juga berarti berbuat kurang ajar terhadap Allah 'Azza wa Jalla. Bagaimana tidak, makhluk yang lemah, senantiasa butuh kepada rizki Allah, tidak kuasa atas hidup dan matinya sendiri disamakan dengan AllahSubhanahu wa Ta'ala sang pencipta semua makhluk, pemberi rizki, menghidupkan dan mematikan
mereka, dan Maha kuasa atas segala sesuatu.
Seorang musyrik menyamakan sesuatu yang tidak memiliki kekuasaan atas apapun jua dengan Dzat yang semua urusan berada ditangan-Nya. Menyamakan orang fakir dari segala sisi dengan Zat yang Mahakaya dari berbagai sisi. Menyamakan yang tidak memberikan rizki sedikitpun dengan Zat yang telah menciptakan apa yang menjadi rizki bagi manusia dan menganugerahkan semua itu kepadanya. Maka adakah kezaliman yang lebih dahsyat dari ini?
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang nasihat Luqman kepada putranya agar tidak berbuat syirik,
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
"Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar." (QS. Luqman: 13)
Allah Ta'ala berfirman,
الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kedzaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Al-An'am: 82)
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah menjelaskan maksudzulm (kezaliman) pada ayat di atas adalah syirik. Turunnya ayat ini membuat gundah para sahabat beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Mereka berkata, "Siapakah di antara kami yang tidak menzalimi dirinya?" Nabi menjawab, "Maksudnya tidak seperti yang kalian kira. Tidakkah kalian mendengar perkataan Luqman kepada putranya, 'Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar'." (HR. Bukhari)
Begitu kurang ajarnya tindakan syirik, maka sangat wajar jika Allah ancam keras pelaku kemusyrikan dengan terhapus semua amal shalihnya, tidak diberi ampunan, haram masuk surga, dan pasti kekal di neraka.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi." (QS. Al-Zumar: 65)
Khitab ayat ini ditujukan kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, hamba pilihan Allah yang paling dicintai oleh-Nya. Jika beliau sampai berbuat syirik, maka tidak ada ampun bagi beliau. Semua amal-amal shalih yang sudah dikerjakannya akan terhapus dan harus merasakan azab dahsyat di akhirat. Lalu bagaimana kalau yang berbuat syirik adalah orang yang derajatnya di bawah beliau?
Tentang haramnya seorang musyrik masuk surga dijelaskan oleh firman Allah,
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun." (QS. Al-Maidah: 72)
Imam Ibnu Katsir berkata dalam menafsirkan ayat, "(maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka), maksudnya: sungguh Allah mengharuskan neraka baginya dan mengharamkan surga atasnya."
Tentang dalil tidak adanya ampunan untuk orang musyrik di akhirat ditunjukkan firman Allah Ta'ala,
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (QS. Al-Nisa': 48)
Perlu dipahami, ayat-ayat di atas yang menerangkan ancaman perbuatan syirik berlaku di akhriat. Yakni orang yang bertemu Allah Ta'ala dengan membawa dosa syirik dan belum bertaubat darinya, maka ia tidak akan disucikan, tidak diampuni dosa dan kesalahannya, dan diharamkan atasnya masuk surga sehingga ia kekal di neraka.
Maka siapa yang saat ia mati masih membawa dosa syirik dan tidak bertaubat darinya sebelum wafatnya, maka ia tidak akan mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah telah haramkan ampunan bagi dosa syirik yang pelakunya tidak bertaubat sebelum meninggalnya. Hal ini berbeda, -sebagaimana disebutkan pada QS. Al-Nisa': 48- dengan dosa selain syirik yang dibawa mati pelakunya, ia berada di bawahMasyi-Ah (kehendak) Allah. Artinya, jika Allah berkenan maka akan mengampuninya, dan jika berkehendak lain akan menyiksanya sesuai dengan kadar dosanya lalu akan mengelurkannya dari neraka dan memasukkannya ke dalam surga. Sehingga tempat singgah terakhirnya adalah di surga. Ini berlaku bagi seorang Muwahhid yang mati membawa dosa yang tingkatannya di bawah syirik. . .
Begitu kurang ajarnya tindakan syirik, maka sangat wajar jika Allah ancam keras pelaku kemusyrikan dengan terhapus semua amal shalihnya, tidak diberi ampunan, haram masuk surga, dan pasti kekal di neraka. . .
Begitu kurang ajarnya tindakan syirik, maka sangat wajar jika Allah ancam keras pelaku kemusyrikan dengan terhapus semua amal shalihnya, tidak diberi ampunan, haram masuk surga, dan pasti kekal di neraka. . .
Adakah Taubat Bagi Pelaku Kesyirikan?
Seseorang yang telah terjerumus ke dalam kesyirikan lalu sadar akan kesalahannya dan besarnya dosa yang telah diperbuat, ia tidak boleh berputus asa dari ampunan dan taubat Allah Ta'ala, "Karena sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hujurat: 12)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
"Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Zumar: 53)
Ayat ini berbicara tentang pelaku dosa dalam hukum dunia, sebagai kabar gembira bagi pelaku maksiat bahwa ia masih memiliki kesempatan untuk diampuni dosa jika bertaubat sebelum wafat. Bukan hanya dosa yang kategorinya maksiat saja, bahkan syirik pun masih ada kesempatan mendapat ampunan jika bertaubat sebelum wafat. Karena Allah menyebutkan, "Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya."
Perlu dicamkan, ayat ini tidak berlaku di akhirat. Karena jika diterapkan demikian pastinya akan membatalkan sejumlah nash Al-Qur'an dan sunnah yang berisi ancaman terhadap dosa syirik yang dibawa mati. Ia juga akan menggugat kesepakatan umat, tidak ada ampunan bagi pelaku dosa syirik pada hari kiamat di mana ia belum bertaubat darinya saat masih di dunia. Jika ayat ini dibawa kepada hukum akhirat, maka batallah keyakinan kaum muslimin bahwa surga tidak dimasuki kecuali oleh jiwa muslimah atau mukminah. Maka sesatlah pemahaman orang yang membawa QS. Al-Zumar: 53 ini kepada hukum di akhirat.
. . . bahkan syirik pun masih ada kesempatan mendapat ampunan jika bertaubat sebelum wafat.
. . . bahkan syirik pun masih ada kesempatan mendapat ampunan jika bertaubat sebelum wafat.
Dalil Adanya Taubat Bagi Pelaku Kesyirikan
Pelaku kesyirikan masih memiliki kesempatan untuk dihapuskan dosanya selama ia masih hidup, yakni dengan bertaubat darinya sebelum wafat. Hal ini dikuatkan oleh beberapa nash Al-Qur'an dan Sunnah Shahihah, antara lain:
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,
وَالَّذِينَ لا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَاماً . يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَاناً . إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحاً فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَحِيماً
"Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Furqan: 68-70)
Ayat di atas sangat jelas menunjukkan adanya ampunan Allah Ta'ala bagi semua dosa, sampai syirik, selama ia bertaubat sebelum wafat. Bahkan ayat menerangkan keutamaan besar bagi mereka yang bertaubat, yakni diganti keburukannya dengan kebaikan.
Dari Abu Farwah rahimahullah, dia mendatangi RasulullahShallallahu 'Alaihi Wasallam dan berkata: "(Ya Rasulullah!) bagaimana menurutmu, jika ada seseorang yang mengerjakan semua perbuatan dosa dan tidak meninggalkan satu perbuatan dosa pun serta tiada keinginan untuk berbuat dosa kecuali ia lakukan. Apakah ada taubat baginya untuk semua itu?"
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bertanya: "Apakah kamu sudah masuk Islam?"
Ia menjawab, "Adapun saya bersaksi tiada sesembahan yang hak kecuali Allah dan bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah."
Beliau bersabda: "Berbuat baiklah dan tinggalkan perbuatan buruk, maka Allah akan menjadikan semua perbuatan buruk itu sebagai kebaikan bagimu." Ia berkata: "penghianatan dan kejahatanku?" Beliau menjawab: "ya." Ia terus menerus bertakbir hingga tidak terlihat lagi." (HR. Thabrani)
Hal ini berbeda dengan orang yang memberikan sesembahan kepada selain Allah dan tidak bertaubat darinya hingga wafat. Ia berjumpa dengan Allah dengan membawa dosa syirik tersebut, maka bagiannya adalah, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik." (QS. Al-Nisa': 48)
Adapun Hadits, sangat banyak sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang menjelaskan adanya harapan ampunan bagi pelaku kesyirikan yang bertaubat sebelum wafat. Di antaranya, hadits Qudsi yang dikeluarkan Imam al-Tirmidzi,
يا ابنَ آدم إنَّك لو أَتَيتَني بِقُرابِ الأرضِ خَطايا ، ثمَّ لَقِيتَني لا تُشركُ بي شَيئاً ، لأتيتُكَ بِقُرابها مغفرةً
"Wahai Anak Adam, sesungguhnya jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, lalu engkau berjumpa dengan-Ku tanpa menyekutukan sesuatu dengan-Ku, pasti Aku akan datangkan kepadamu ampunan sebanyak itu."
Sahabat Jabir Radhiyallahu 'Anhu menuturkan, ada seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam lalu bertanya, "Ya Rasulallah, apa dua hal yang paling menentukan?" Beliau menjawab,
مَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ
"Siapa yang mati sedangkan ia tidak menyekutukan Allah dengan apapun juga, pasti ia masuk surga. Siapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu, pasti masuk neraka." (HR. Muslim)
Sedangkan diketahui, seseorang yang bertaubat dari dosa, ia laksana orang yang tidak melakukan dosa tersebut,
اَلتَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ
"Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak berdosa." (HR. Ibnu Majah dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)
. . . Pelaku kesyirikan masih memiliki kesempatan untuk dihapuskan dosanya selama ia masih hidup, yakni dengan bertaubat darinya sebelum wafat. .
. . . Pelaku kesyirikan masih memiliki kesempatan untuk dihapuskan dosanya selama ia masih hidup, yakni dengan bertaubat darinya sebelum wafat. .
Penutup
Setelah mengetahui bahaya Syirik yang luar biasa, pastinya setiap kita berusaha keras menjauhinya. Hanya saja syirik banyak macamnya, sebagiannya samar sehingga terjadi tanpa disadari. Oleh sebab itu, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallammemberikan petunjuk solusi dalam rupa doa, silahkah baca:
Tekad untuk meninggalkan segala macam syirik haruslah diikuti dengan mengenal bentuk dan macamnya. Karena siapa tak kenal keburukan, dipastikan ia akan terjerumus ke dalamnya tanpa merasa. Dan jika sesudah mempelajarinya lalu tersadar pernah melakukan dosa syirik, maka tak boleh putus asa dan merasa pasti binasa. Karena selama hayat masih di kandung badan, pintu taubat masih terbuka. Dan siapa yang bertaubat kepada Allah dari dosa maka ia seperti orang yang tak berbuat dosa, dan syirik masuk di dalamnya. Sementara makna syirik yang tak terampuni adalah dosa syirik yang dibawa mati. Ia tak mau bertaubat sebelum wafat. Wallahu Ta'ala a'lam
Sholat dhuha mempunyai begitu banyak keutamaan namun kita sering bahkan mungkin tidak pernah melakukannya dikarenakan sibuk dengan pekerjaan kita, yah memang sholat dhuha waktunya bertepatan dengan waktu kerja, sehingga dikarenakan mengejar setoran sampai-sampai lupa akan satu amalah yang justru membantu kita dalam memperoleh rizqi, karena sholat dhuha adalah kunci mendapatkan rizqi. Salah satu keutamaan sholat dhuha adalah memudahkan kita dalam mendapat rizqi kita agar tidak seret.
Fadhilah Sholat Dhuha:
Pertama : Dua Roka’t Sholat Dhuha sama dengan shodaqoh.dari Abu Dzarr dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Setiap pagi dari persendian masing-masing kalian ada sedekahnya, setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir sedekah, setiap amar ma’ruf nahyi mungkar sedekah, dan semuanya itu tercukupi dengan dua rakaat dhuha." (H.R Muslim)
Kedua : Dua Rokaat Sholat Dhuha sama dengan shodaqoh yang dilakukan 360 tulang persendian manusia.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda : “Setiap persendian manusia diwajibkan untuk bersedakah setiap harinya mulai matahari terbit. Memisahkan (menyelesaikan perkara) antara dua orang (yang berselisih) adalah sedekah. Menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah sedekah. Berkata yang baik juga termasuk sedekah. Begitu pula setiap langkah berjalan untuk menunaikan shalat adalah sedekah. Serta menyingkirkan suatu rintangan dari jalan adalah shadaqah ”.HR. Bukhari dan Muslim
Ketiga : Alloh akan mencukupi rizqinya dan menjaga orang yang sholat Dhuha empat Roka’at.
Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam dari Allah Azza Wa Jalla, Dia berfirman: “Wahai anak Adam, ruku’lah kamu kepadaku dipermulaan siang sebanyak empat raka’at, niscaya Aku akan memenuhi kebutuhanmu di akhir siang.”H. R Tirmidzi
Keempat : Sholatnya orang yang bertaubat kepada Alloh.
لا يحافظ على صلاة الضحى إلا أواب
“Tidaklah menjaga sholat dhuha kecuali orang-orang yang bertaubat” H.R Al Hakim
Barangsiapa solat Dhuha dua rakaat, maka tidak ditulis sebagai orang-orang lalai, barangsiapa solat Dhuha empat rakaat maka ditulis sebagai orang-orang yang bertaubat, barangsiapa solat Dhuha enam rakaat, maka dicukupkan untuknya pada hari itu, barangsiapa solat Dhuha lapan rakaat, maka ditulis dalam golongan ahli Ibadah, dan barangsiapa solat Dhuha dua belas rakaat maka dibangunkan untuknya rumah di syurga. (Fathul Bari)
Kelima : Melaksanakan wasiat Nabi SAW.
Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata: “Kekasihku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) telah berwasiat kepadaku dengan tiga perkara yang tidak akan pernah aku tinggalkan hingga aku meninggal dunia, yaitu shaum tiga hari pada setiap bulan, shalat Dhuha dan tidur dengan shalat witir terlebih dahulu”.H.R Muttafaq ‘alaih.
kehilangan saja’ah(keberanian) menegaskan dirinya sebagai seorang mukmin dan muslim secara terang (jahr) di depan umum.
Mereka ramai-ramai menyembunyikan indentitasnya sebagai mukmin dan muslim. Mereka bukan hanya malu, tetapi mereka dihinggapi rasa takut, dan tidak adanya saja’ah. Sehingga umat menjadi ragu dan sangsi terhadap mereka. Siapa sejatinya mereka ini?
Mereka bukan hanya berpirau, ketika seharusnya menegaskan jati dirinya, tetapi mereka melepaskan semua keterkaitannya dengan Islam. Seakan mereka bukan seorang mukmin, muslim, dan pemimpin Islam. Mereka benar-benar menyembunyikan jati dirinya, identitasnya, dan segala keterkaitannya dengan Islam.
Para pemimin dan tokoh Islam itu, lebih senang dan bangga, bila dirinya dikenal atau difahami oleh kalayak sebagai tokoh atau pemimpin yang sama sekali tidak memiliki keterkaitan dengan Islam. Mereka lebih senang bila disebut sebagai tokoh yang tasamuh (toleran) atau sebagai pemimpin nasionalis, pluralis, demokratis, dan liberalis.
Para pemimpin dan tokoh Islam itu, mereka sangat takut bila dirinya dicap atau diberi lebel sebagai "ushulliyyun"(fundamentalis). Karena dengan lebelling seperti itu, mengakibatkan tidak dapat diterimanya mereka oleh berbagai kalangan. Bahkan, ada seorang pemimpin dan tokoh yang menyatakan "baju Islam" sebagai "baju yang sempit", karena itu ditinggalkannya segala yang memiliki konotasi dengan Islam.
Para pemimpin dan tokoh Islam itu, sering membuat pernyataan yang menolak dan menentang nilai-nilai Islam, sebagai sistem kehidupan yang bersifat asas dengan terang-terangan. Mereka memilih sistem dan hukum kufur buatan manusia. Sepertinya mereka tidak pernah mengenal Islam. Mereka dengan terbuka menapikan prinsip-prinsip (mabda’) Islami. Memuji dan mengagungkan hukum dan prinsip-prinsip buatan manusia yang bersifat kufur dan bathil.
Para pemimpin dan tokoh Islam itu, mereka tak berani lagi melakukan nahi munkar. Membiarkan kemunkaran berkembang di mana-mana. Karena mereka menolak syariah Islam, dan hanya mengacu hukum dan aturan buatan manusia, yang terang-terangan memberontak terhadap hukum yang diciptakan Allah Azza Wa Jalla.
Hilangnya panutan dan tauladan dari para pemimpin dan tokoh Islam, yang benar-benar komit dan berpegang teguh pada asas dan prinsip-prinsip (mabda’) Islam, mengakibatkan semakin jauhnya umat dari Islam. Umat Islam seperti anak ayam yang kehilangan induk semangnya.
Pemimpin dan tokoh Islam yang mula-mula dianggap lurus, dan memiliki saja’ah dalam membela dan menegakkan Islam dan melakukan amar ma’ruf nahi munkar, tiba-tiba berubah sikap dan menjadi “anshorut thogut”, bukan menjadi pembeladiennullah (agama Allah), tetapi menjadi pembela kemunkaran dan kebathilan, serta menjauhi hukum-hukum dan aturan Allah Rabbul Alamin.
Padahal, Islam adalah dien yang di wahyukan oleh Allah Ta’ala kepada para utusan-Nya yang tidak ada campur tangan sedikitpun dari manusia. Ia tegak diatas ajaran tauhid murni, maka Islam merupakan dien yang lurus dan bersih dari kebathilan dan kekurangan.
Para Rasul diutus kepada umat manusia oleh Allah Ta’ala, hanya mempunyai dua misi yang agung, yaitu mengajak seluruh manusia beribadah semata kepada Allah Rabbul Alamin, dan menjauhi thogut. Konsekwensi beribadah kepada Allah Ta’ala semata, maka secara aksiomatik akan menjauhi thogut.
Hari ini kita menyaksikan banyaknya pemimpin dan tokoh Islam palsu. Mereka mendeklarasikan dirinya sebagai pemimpin dan tokoh umat, tetapi disisi lainnya, mereka justru memberikan wala’nya (loyalitas) kepada musuh-musuh
Allah, kepada thogut, dan menolak segala Keagungan dan Kemahakuasaan Allah, serta hukum-hukum-Nya.
Mereka berlindung, meminta pertolongan, dan meminta rezeki kepada thogut. Karena itu, mereka tak memiliki kemuliaan sedikitpun dihadapan manusia, dan dihadapan Allah Rabbul Alamin. Mereka tidak memiliki izzah, dan menjadi sangat hina dihadapan musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam dicabut rasa takutnya, dan rasa takut itu ditimpakan kepada para pemimpin dan tokoh Islam.
Bukti sejarah sampai hari ini, menunjukkan bahwa sejak manusia hidup dibawah sistem buatan manusia, seperti kapitalis, sosialis, komunis, liberalis, dan lainnya, mereka tak henti-hentinya ditimpa kemalangan, kesengsaraan, kenestapaan, serta penderitaan. Mereka menyangka sistem dan nilai buatan manusia itu dapat membahagiakan mereka, tetapi justru menghancurkan kehidupan mereka.
Para pemimpin dan tokoh Islam, seharusnya memahami kondisi sekarang ini secara global. Di mana seluruh ideologi dan sistem yang ada telah gagal, dan tidak lagi berpikir tentang ideologi ciptaan manusia, yang nyata-nyata bathil, syirik, dan meninggalkannya. Serta tidak perlu lagi takut menyatakan komitmennya dan ketundukkan terhadap nilai-nilai dan prinsip (mabda') Islam.
Firman Allah :
“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu, dan akan meneguhkan kedudukanmu". (QS : Muhammad 7)
Jadi, kewajiban setiap pemimpin, tokoh, dan orang-orang mukmin, hanyalah membela agama Allah, dan pasti Allah akan membela mereka. Bukan justru takut dan malu, atau sudah tidak ada lagi jiwa saja’ah, ketika Allah Azza Wa Jalla, memberikan kenikmatan berupa kekuasaan, kemudian menjauh dari dienullah.
Kewajiban orang-orang mukmin dan muslim, ketika menjumpai para pemimin dan tokoh Islam palsu, maka jauhi dan tinggalkanlah, jangan lagi hiraukan ucapan dan seruannya. Karena hanya akan membawa kemudharatan belaka. Wallahu’alam.
Langganan:
Postingan (Atom)





